Senin, 12 Maret 2012

Sekolah Inovatif dalam Prespektif Global

Dalam konteks kehidupan nyata istilah kompetisi memiliki  kesepadanan makna dengan kata bertarung atau berhadapan langsung dengan lawan dalam bertinju, bertanding sama dengan berhadapan langsung dengan lawan namun tidak bersentuhan fisik seperti main bulu tangkis.
Berlomba yang berarti adu kebaikan dan keuatan seperti dalam perlombaan lari atau renang. Istilah berlomba digunakan pula dalam  kompetisi fisik, keterampilan, bahkan otak, atau kreasi. Di kalangan pelajar terdapat lomba rias, lukis, membaca, menulis, karya ilmiah dan kreasi yang lain.
Dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, layanan, produk, bahkan memperebutkan gadis cantik untuk dipinang istilah kompetisi dapat bermakna bersaing. Bersaing sehat dapat bermakna adu kekuatan, adu kecepatan, adu kehandalan, adu keindahan, adu kecanggihan dan adu kelihaian dalam menggunakan strategi.Dalam bidang produksi dan pelayanan persaingan bermodalkan keunggulan karena paling praktis, paling efisien, paling aman, dan memuaskan pelanggan.
Persaingan ini berlangsung setiap saat, setiap orang setiap masyarakat, setiap bangsa menghabiskan waktu, pikiran, tenaga mengembangkan inovasi sesuai dengan potensi yang dimilikinya untuk menjadi yang paling unggul. Unggul berarti memiliki nilai lebih atau nilai plus yang sering dirumuskan menjadi X karena tidak terduga banyaknya.
Dalam mengembangkan keunggulan bidang apa pun dalam kehidupan untuk mendapatkan hal-hal yang terbarukan, memiliki nilai lebih, memiliki keunikan yang tidak terdapat pada produk lain itulah yang sesungguhnya bernilai  inovasi.
Inovasi  memiliki makna “ memperbarui atau mengubah,” atau “menjadibaru”. Meskipun istilah ini digunakan dalam pengertian yang sangat luas, namun pada  umumnya mengacu pada penciptaan produk yang lebih baik atau lebih efektif, pada proses, teknologi, atau ide yang diterima oleh pasar, pemerintah, maupun masyarakat.
Inovasi berbeda dari penemuan atau renovasi dalam inovasi yang umumnya menandakan perubahan positif yang lebih besar dibandingkan dengan perubahan inkremental (Wikipedia). Inremental artinya menghasilkan perubahan yang sedikit demi sedikit yang dilakukan secara konsisten untuk mewujudkan tujuan.
Sekali pun inovasi menghasilkan perubahan  ke arah yang positif dan lebih besar dari perubahan inkremental, kenyataannya inovasi berproses melalui perubahan inkremental. Kesalahan bahkan selalu menjadi awal dari berbagai penemuan baru.
Motor Honda dapat menjadi salah satu model produk inovasi yang tepat. Dari sejak diluncurkan produk pertama pembaharuan komponennya selalu dilakukan secara bertahap dan pada bagian yang kecil-kecil sehingga pada akhirnya jarak perbedaan antara produk pertama dengan yang mutahir menjadi berbeda jauh. Perubahan yang sedikit-demi sedikit itu selain memudahkan perawatan karena keterampilan bengkel yang harus berkembang bertahap, juga pengetahuan dan keterampilan pengguna juga transpormatif karena keterampilan sebelumnya menjadi landasan pembaharuan.
Inovasi berkembang dalam skala kecil-kecil, perubahannya berproses  secara konsisten, berkelanjutan, selalu menghasilkan produk terbarukan.
Sekolah inovatif  adalah satuan pendidikan  yang terus-menerus melakukan pembaharuan dalam merespon perubahan lingkungan. Sekolah inovatif memiliki kemampuan untuk mengembangkan ide-ide baru untuk meningkatkan kemampuan lembaganya sehingga adaptif terhadap perubahan jaman. Daya adaptasi berarti  meningkatkan penguasaan pengetahuan dan keterampilan organisasi secara efektif dalam rangka meningkatkan mutu lulusan.
Permendiknas Nomor 78 tahun 2009  yang mengatur tentang pengelolaan dan penyelenggaraan sekolah rintisan bertaraf internasional (RSBI) menyederhanakan  keunggulan itu dengan perlombaan. Target besar memenangkan lomba internasional, mendapat perhargaan internasional, dan sertifikat internasional menjadi mimpi buruk sekolah yang baru merangkak meningkatkan mutu pada level bawah.
Penyederhanaan menjadi kemenangan piala keunggulan akademik dan nonakademik menjadi petaka karena menyisakan siswa yang kalah loba. Menyisakan siksa bagi sebagian besar pembina prestasi siswa yang   secara psikologis  menderita karena mimpi besar terlalu jauh jaraknya untuk diraih. Sebagian pembina membaca kemalangan itu sebagai tanda kekurangmampuan sumber daya.
Makna sekolah berprestasi pada waktu mendatang harus diubah. Lebih ramah jika diberi makna mampu bersaing sehat secara wajar yang diukur mulai dari kemampuan belajar. Boleh menang lomba maupun tidak tetapi kultur bersaing sehat dalam berinovasi pada pengembangan keterampilan belajar, melek teknologi, melek informasi dan berinovasi untuk menghasilkan produk belajar.
Sekolah menghasilkan lulusan yang berdaya saing dengan mengoptimalkan potensi diri dalam mengasah keterampilan fisik, intelektual, imajinsi, intuisi, dan inovasi dalam berbagai bidang keilmu sesuai bakat,dan minatnya. Mendayagunakan ciri khas atau potensi daerah yang diramu dalam daya imajinasi,  ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi itu juga tidak kalah baik.
Menilai sekolah harus menggunakan pendekatan khas sesuai dengan potensi sekolah dalam mengembangkan ide baru, strategi baru, proses baru, teknolgi baru, dan hasil terbaru, merupakan objek  penilaian yang bermakna. Hasilnya harus lebih baik daripada yang sudah ada sebelumnya, itulah prestasi.
Sekolah yang inovatif berarti fokus sentral pengembangannya  adalah pada penciptaan produk yang lebih baik berupa lulusan yang adaptif terhadap perkembangan lingkungan dalam prespektif internasional. Pekerjaan utamanya adalah memenuhi kebutuhan mutu sumber daya insani sesuai peradaban dan keperluan tenaga kerja sesuai dengan perubahan ekonomi secara global.
Sekolah inovatif adalah sekolah yang pandai mewujudkan tujuan mengembangkan dan mengasah kompetensi siswa yang sesuai dengan kebutuhan hidup secara efektif. Sekolah selalu melakukan pembaharuan kompetensi lulusan, materi pelajaran, proses pembelajaran sehingga menghasilkan lulusan yang memiliki daya adaptasi terhadap setiap perubahan. Sekolah inovatif adaptif terhadap perkembangan teknologi menggali ide yang diterima oleh pasar dan masyarakat luas dalam konteks persaingan yang ketat.
Daya inovasi sekolah ditunjang dengan kemampuan pendidik, tenaga kependidikan, dan siswa dalam menguasai informasi, ilmu pengetahuan, dan keterampilan untuk menghasilakan berbagai hal yang baru. Produk belajar siswa selalu berubah dari waktu ke waktu menyesuikan dengan keterampilan yang siswa perlukan untuk hidup. Untuk itu kurikulum selalu diadaptasikan dengan kebutuhan peningkatan mutu yang diharapkan.
Untuk memelihara proses perubahan itu diperlukan guru-guru yang berkompeten dalam merancang kurikulum, mengembangkan proses pembelajaran dan penilaian dan pengembangan kultur sekolah secara menyeluruh. Semua dikaji berdasarkan kebutuhan pengembangan dan perubahan sesuai dengan yang diharapkan.
Siklus perubahan berjalan sebagaimana dapat digambarkan dalam diagram yang menggabarkan model siklus berikut.
Pada diagram siklus di atas  terlihat bahwa kemampuan untuk mendeskripsikan keadaan nyata, keadaan yang diharapkan, peran informasi, daya itelektual dalam penguasan informasi dan ilmu pengetahuan, serta menerapkan ilmu pengetahuan dalam memecahkan masalah dengan cara baru merupakan dasar yang penting dalam mengembangkan inovasi.
Menurut Giles dan Hargreaves (2006) dalam bunga rampai  How School Principals Sustain Success Over Time yang menyatakan   bahwa dalam inovasi sekolah dalam membangun keberhasilan dalam jangka panjang berbeda dengan  membangun keberhasilan sekolah dalam  jangka pendek.
Daya tahan jangka pendek (transien) sering harus dipaksakan secara eksternal untuk mencapai tujuan tertentu, sedangkan keberhasilan melalui proses jangka panjang berkembang melalui pertumbuhan kapasitas organisasi dan individu warga sekolah  secara progresif dan inovatif, yang memadukan dengan hasil studi literatur yang mendalam tentang keberlanjutan pembaharuan dari  waktu ke waktu (Giles dan Hargreaves 2006).
Sumber daya kritis dalam meningkatkan  inovasi sekolah adalah bagaimana meningkatkan kapabelitas warga sekolah dalam menguasai inovormasi, menguasai dan menggunakan ilmu pengetahuan, dan mengembangkan inisiatif untuk medapatkan ide-ide baru yang dapat mengoptimalkan siswa belajar sesuai perkembangan peradaban.
Dalam era ekonomi digital saat ini, sekolah sebagai tempat siswa dapat belajar seyogyanya menghasilkan lulusan yang menguasi sejumlah kemahiran mengelola informasi, ilmu pengetahuan dan inovasi. Dalam konteks itu pendidik perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk memfasilitasi siswa belajar, menguasai keterampilan belajar, keterampilan mengelola informasi, menguasai ilmu  pengetahuan, dan mengasah keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan hidup dalam prespektif perkembangan ekonomi nasional maupun internasional.
Peningkatan pemahaman dan keterampilan pendidik memerlukan standar pengorganisasian sekolah dan pengelolaan akademik yang ketat. Dalam menjamin terpenuhinya standar maka sekolah perlu meningkatkan kewirausahaan agar dapat memilih pengetahuan dan keterampilan utama  yang  perlu siswa kuasai serta menentukan ukuran-ukuran keberhasilnya.
Pengorganisasian yang paling dibutuhkan adalah meningkatkan mutu pendidik agar dapat meningkatkan pengetahuan dan mengasah keterampilan mengajar yang lebih efektif. Mengasah keterampilan yang selalu terbarukan yang adaptif dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, menguasai bahasa Inggris sebagai bahasa ilmu pengetahuan merupakan syarat mutlak dalam mengembangkan daya inovasi.
Sekolah inovatif dapat diwujudkan jika sekolah menjadi organisasi pembelajar. Kepala sekolah, guru, siswa bergerak dinamis beradaptasi dengan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, sosial, dan peradaban secara umum dalam prespektif internasional. Meningkatkan keterampilan baru seperti warga sekolah di mana pun belajar.
Referensi:
  • David Knights and Darren Mccabe, 2003. Organization and innovation: guru schemes and American dreams, David Knights and Darren McCabe. England
  • Edward Sallis, 2005. Total Quality Management in Education, Third Edition, Taylor & Francis e-Library, UK-USA.
  • Tim Harford .2011, Why Success Always Start with Failure. Farrar, Straus and Giroux, New York
  • http://en.wikipedia.org/wiki/Innovation
  • Hubert Saint-Onge and Charles Armstrong, 2004.  The Conductive Organization Building Beyond Sustainability: Copyright , Elsevier Inc

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sponsors